my best friends

my best friends

Kamis, 16 Desember 2010

Mengenal Kepribadian Seseorang Dari Posisi Tidurnya

Psikolog asal Australia telah mengidentifikasi beberapa posisi tidur yang dapat menjelaskan kepribadian dan sifat seseorang. Demikian yang dikutip dari Geniusbeauty.

Berdasarkan spesialis tersebut, hal ini dikarenakan pada saat tidur seseorang berprilaku mengikuti alam bawah sadarnya. Berikut beberapa posisi tidur dan arti di baliknya.

1. Posisi Janin
Posisi ini menyerupai posisi bayi di dalam janin, meringkuk ke samping. Artinya, orang tersebut sedang membutuhkan perlindungan.

2. Posisi Terlentang
Posisi tubuh lurus dan menghadap ke atas ini biasanya dipilih seseorang yang senang membantu dan terfokus.

3. Posisi Royal
Hampir sama dengan posisi terlentang, namun posisi tangan berada di bawah kepala. Ini artinya, orang tersebut memiliki kepercayaan diri yang sangat besar.

4. Posisi Semi-janin
Tidak jauh berbeda dengan posisi janin, tapi posisi kaki hanya ditekuk setengah saja. Biasanya posisi ini mencerminkan orang yang masuk akal dan cenderung suka marah-marah.

5. Posisi Seimbang
Posisi tubuh berbaring ke samping dengan tangan memeluk bantal atau seseorang yang dicintainya. Posisi ini memiliki arti bahwa orang tersebut memiliki kepribadian yang tenang, tahu apa yang ia inginkan dalam hidup, lebih mementingkan keluarga dan seorang pemimpin.

Sikap Defensif


Sikap Defensif Alias Membela Diri                               

Rounded Rectangle: Saat menghadapi suatu masalah, respon dasar makhluk hidup (manusia & binatang) adalah bertahan dengan cara fight or flight, alias melawan atau kabur. Jika kita memilih untuk melawan, maka pada saat itu defense mechanism kita bekerja. Contohnya saat mengahdapi pelecehan seksual di tempat umum, respon kita adalah menonjok si pelaku. Waah, bagus tuh! Itu artinya defense mechanism kita bekerja dengan baik.
Yang bikin repot ternyata mengontrol sikap defensif itu nggak selalu gampang. Apalagi kalau sudah berhubungan sama urusan mental. Maklum deh, hati dan otak ternyata lebih fragile dari pada tubuh kita. Biasanya kalau sudah menyangkut soal harga diri, wah defense mechanism kita bekerja mati-matian untuk membela diri. Eits, hati-hati! Kalau salah langkah bukannya menyelamatkan posisi kita, malah bikin harga diri makin jatuh!

Tipe-Tipe Jomblo Berdasarkan Teori Ekonomi

Tulisan ini aku adaptasi dari Raditya Dika. Taukan siapa dia? Dia penulis novel kambing jantan. Beberapa waktu lalu, karena lagi gak ada kerjaan dan kebanyakan bengong, dia nge-twit tentang tipe-tipe jomblo yang dikelompokan berdasarkan teori ekonomi tentang penyebab-penyebab unemployment. Belakangan ini dia baru nemu kembali twit yang lama tersebut, dan kayaknya seru kalau versi expanded-nya, yang udah di tambah-tambahin, dia share di blog.
Ide untuk menulis tipe-tipe jomblo ini gue dapetin di sela-sela lagi baca buku ekonomi makro. Selama ini dia pikir teori tentang cinta hanya bisa disambung-sambungkan dengan teori ekonomi mikro (insentif, penawaran, permintaan), ternyata dengan ekonomi makro seperti unemployment juga bisa masuk.
Nah, monggo di baca, tipe-tipe jomblo berdasarkan teori ekonomi:

Jomblo Struktural
Jomblo struktural adalah jomblo karena kualitas kita (penawaran) dgn kemauan lawan jenis (permintaan) terhadap kita tidak seimbang. Jadi, Jomblo Struktural terjadi krn apa yang kita punya (fisik dan kepribadian) tidak sesuai dgn apa yg lawan jenis inginkan.
Hal ini bisa kita lihat kalau kita cowok yg jelek dan cuek. Sementara cewek yg kita incer mau co ganteng dan perhatian. Gak ktemu penawaran dgn permintaan. Jomblo deh.
Jomblo struktural juga bisa teradap dalam kasus cewek. Misalnya, ceweknya kulitnya item, sementara cowok-cowok yang dia taksir maunya yang putih dan behelan. Terjadi kembali mismatch antara penawaran dengan permintaan. Jomblo deh.
Jomblo struktural bisa dihindari dengan cara seperti ini: 1) meningkatkan kualitas kita, supaya bisa memenuhi “permintaan” lawan jenis, atau 2) mencari “pasar” lain. Berarti kita harus mencari cewek atau cowok yang mau dengan kualitas-kualitas (penawaran) kita. Dalam kata lain: menurunkan standar.
Jomblo Cyclical
Jomblo cyclical terjadi karena keinginan orang untuk pacaran menurun di masa-masa tertentu, jadinya banyak yang jomblo. Misalnya: menjelang UAN. Banyak orang jomblo berkepanjangan sewaktu menjelang UAN atau SPMB, karena fokus cewek dan cowok masih belajar. Tidak banyak bahkan yang sudah pacaran pun memutuskan pacarnya karena mereka ingin fokus belajar. Ini bisa menyebabkan kejombloan.
Tapi jangan khawatir, sesuai dgn namanya, cyclical, berarti ada siklusnya. Jadi, akan ada masanya orang-orang jadi banyak yg punya pacar lagi. Misalnya, masa liburan. Di masa ini, org pegen punya pacar, biar bisa liburan bareng. Atau banyak orang yang cinlok di tempat berlibur. Cara terbebas dari Jomblo Cyclical adalah dengan menunggu masa-masa orang ogah pacaran lewat. Setahu saya, tidak ada jalan lain selain ini.
Jomblo Friksional
Jomblo Friksional adalah kejombloan yang disebabkan oleh mereka yang baru putus dan ingin waktu sendiri dulu sebelum pacaran lagi. Jadi, Jomblo Friksional sifatnya sukarela mereka memilih ngejomblo dulu, setelah putus dan sebelom pacaran lagi.
Jomblo friksional biasanya terjadi pada cewek yang “gak mau pacaran dulu” karena abis disakitin sama pacarnya dulu, dan blm mau pacaran lagi. Caranya terbebas dari Jomblo Friksional? Move on, boys and girls. Find a better person.

Jadi, jomblo tipe apakah kamu?

Selasa, 14 Desember 2010

KETERAMPILAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK KECIL

Pengertian
Dalam proses pembelajaran tujuan yang hendak dicapai tidak terbatas pada pengetahuan saja, melainkan juga pembentukan keterampiIan dan sikap. Karena itu menuntut adanya model pembelajaran yang dapat melibatkan potensi peserta didik secara optimal, yaitu suatu model pembelajaran yang menekankan penggunaan metode diskusi kelompak dalarn pelaksanaanya. Pada bagian ini kita akan mempelajari tentang keterampilan dasar mengajar membimbing diskusi kelompok kecil. Ada beberapa hal yang akan kita pelajari, yaitu mencakup pengertian, tujuan, komponen dan prinsip dalam membimbing diskusi kelompok kecil. Kita perlu menyadari dari awal bahwa mengelola diskusi tidak sekedar rutinitas. Tetapi kita dituntut untuk menciptakan diskusi yang merangsang setiap siswa agar mampu beraktualisasi diri.
Yang kita maksud dengan diskusi kelompok kecil adalah sutu proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi atau pengalaman, mengambil keputusan, atau memecahkan suatu masalah. Dengan demikian, pengertian keterampilan dasar mengajar membimbing diskusi kelompok kecil ialah keterampilan melaksanakan kegiatan membimbing peserta didik agar dapat melaksanakan diskusi kelompok kecil secara efektif.

2. Macam-macam diskusi
Diskusi ada dua macam, yaitu: diskusi terbimbing dan diskusi bebas.
1.Diskusi Terbimbing
Diskusi terbimbing merupakan kegiatan pembelajaran mengajak siswa untuk berpikir tingkat tinggi sebagaimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan analisis, sintesis dan evaluasi (Louisell dan Descamps, 1992). Tujuan diskusi yang utama adalah membantu siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Dalam diskusi biasanya digunakan pertanyaan-pertanyaan konvergen, divergen dan evaluatif.
a.Pertanyaan konvergen, adalah pertanyaan yang hanya mempunyai sati jawaban benar, dan jawabannya memerlukan penjelasan. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk membantu siswa dalam mengaplikasikan dan menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan sangat berguna untuk merangsang timbulnya keterampilan proses sains: pemgukuran, komuniksi, pembandingan (comparing), dan pembedaan (contrasting). Contoh: (1) manakah di antara makanan-makanan ini yang lebih kaya karbohidrat?”, (2) (Setelah mengamati bunga salak) “ Bagaimana cara menyerbukkan bunga salak yang efektif?”.
b.Pertanyaan divergen, adalah pertanyaan yang mempunyai jawabanbenar lebih dari satu, yang berguna untuk mendorong kemampuan berpikir kemungkinan (possibility thinking) dan kreatif. Pertanyaan ini merangsang siswa berpikir secara bebas. Pertanyaan divergen memerlukan atau mendorong terbentuknya kemampuan berpikir sintesis dan mendorong kemampuan siswa untuk kreatif dalam memecahkan masalah, terbentuknya keterampilan proses sains terintegrasi (membuat hipotesis dan eksperimen). Contoh: Apa yang akan terjadi dengan awan hitam yangmenggantung itu?”.
c.Pertanyaan evaluatif, adalah pertanyaan yang meminta siswa membuat dan mengambil keputusan. Pertanyaan itu mendorong siswa untuk dapat memilih, menilai, menilai, mengambil keputusan, mengkritik, mempertahankan pendapat dan menghakimi. Pertanyaan “Mengapa?” biasanya perlu disertakan pada pertanyaan yang meminta siswa untuk memilih, memutuskan, menilai, dan sebagainya. Keterampilan proses yangb dapat diukur da dikembangkan dengan petanyaan evaluatif adalah: prediksi, pengambilan kesimpulan dan membuat generalisasi. Contoh: (1) Apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi polusi di pasar Besar Malang?
(2) Mana yang kamu sukai, menanam mangga dari bibit cangkokan atau biji?
2.Diskusi Bebas (Kelompok Kecil)
Diskusi bebas dilakukan oleh siswa tanpa dipandu oleh guru. Peran guru hanya sebagai motivator, fasilitator, organisator, dan evaluator. Diskusi bebas sebaiknya dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kelompok kecil. Diskusi bebas dapat dilaksanakan dengan panduan pertanyaan, atau tanpa panduan pertanyaan. Bila digunakan panduan pertanyaan, sebaiknya digunakan pertanyaan divergen. Jika tidak menggunakan panduan, siswa bebas memilih atau menemukan masalah sendiri untuk dipecahkan. Pelaksanaan diskusi bebas dapat menggunakan strategi belajar kooperatif.

3.Tujuan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Dengan kegiatan diskusi setiap peerta didik diharapkan mempunyai pendirian dan arah yang jelas tentang persoalan yang didiskusikan. Hal ini berguna ketika terjun di masyarakat, banyak persoalan yang harus segera ditangani dengan pemikiran yang rasional, runtut dan mudah dipahami dan diterima masyarakat
Tujuan dari keterampilan ini adalah sebagai berikut:
a.Setiap peserta didik dapat saling memberi informasi atau pengalaman dalam menjelajahi gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan oleh mereka
b.Peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan berkomunikasi
c.Peserta didik terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
d.Meningkatkan motivasi belajar
e.Meningkatkan disiplin
f.Mengembangkan sikap saling membantu
g.Meningkatkan pemahaman.

4.Komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Agar keterampilan ini dapat kita kuasai dengan baik, perhatikan komponen-komponen dalam keterampilan membimbing diskusi;
1.Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi;
a.Rumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi
b.Kemukakan masalah-masalah khusus
c.Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan
d.Rangkum hasil pembicaraan diskusi
2.Memperjelas masalah maupun usulan atau pendapat
a.Merangkum usulan tersebut sehingga menjadi jelas
b.Meminta komentar peserta didik dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut
c.Menguraikan gagasan peserta didik dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai, sehingga kelompok dapat memperoleh informasi secara lebih jelas.
3.Menganalisis pandangan atau pendapat peserta didik
Di dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat di antara anggota kelompok. Dengan demikian, kita hendaknya mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut dengan cara antara lain sebagai berikut:
a.Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat
b.Menjelaskan hal-hal yang disepakati maupun yang tidak disepakati.
4.Meningkatkan usulan peserta didik
a.Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menantang peserta didik untuk berpikir
b.Memberikan contoh-contoh verbal yang sesuai secara tepat
c.Memberikan waktu untuk berpikir
d.Memberikan dukungan kepada usulan pendapat peserta didik dengan penuh perhatian.
5.Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
a.Mencoba memancing usulan peserta didik yang enggan berpartisipasi dengan mengarah langsung secara bijaksana
b.Mencegah terjadinya pembicaran serentak dengan memberi giliran kepada setiap orang, terutama yang pendiam terlebih dahulu
c.Secara bijaksana usahakan mencegah orang yang suka memonopoli pembicaraan
d.Mendorong setiap orang untuk mengomentari usulan temannya sehingga interaksi antar peserta didik dapat ditingkatkan.
6.Menutup diskusi
a.Dengan bersama-sama, kita membuat rangkuman hasil diskusi
b.Kita perlu memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi
c.Kita lakukan evaluasi bersama atas proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai.

5.Prinsip keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Agar kita terampil mengelola dan membimbing diskusi kecil, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain:
1.Diskusi hendaknya berlangsung dalam “iklim terbuka”
Hal ini ditandai dengan adanya antusiasme berpartisipasi, kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topik diskusi, dan kesediaan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk dikenal dan dihargai, dapat merasa aman dan bebas mengemukakan pendapat.
2.Perlu perencanaan dan persiapan yang matang
a.Pemilihan topik hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan setiap peserta didik
b.Perumusan, masalah hendaknya mengandung jawaban yang komplek atau jawaban bermacam-macam yang berbeda hanya tingkat kebenaran, sudut pandang dan arah peninjauannya
c.Perlu ada penyampaian informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik tersebut agar para peserta didik memiliki persepsi yang sama. Misalnya dapat diIakukan dengan membaca artikel, melakukan observasi dan lain-lain.
d.Kita harus benar-benar siap dengan sumber informasi sebagai motivator dan fasilitator sehingga mampu memberikan penjelasan dan mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi setiap orang
e.Penetapan besar kecilnya kelompok peserta didik. Besar kecilnya kelompok mempunyai kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Karena itu hendaknya dipertimbangkan pengalaman, kematangan dan keterampilan peserta didik, tingkat kekompakan, intensitas minat, latar belakang pengetahuan dan keterampilan guru memimpin diskusi
f.Pengaturan tempat duduk, agar diupayakan anggota kelompok dapat bertatap muka dan pemimpin diskusi berada dalam posisi yang memungkinkan dapat berhadapan dengan anggota. Sehingga terpupuk suasana kehangatan antar peserta didik.

6.Kelebihan dan kelemahan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Kelebihan;
a.Anggota kelompok sering dimotivasi oleh kehadiran kelompok lain
b.Anggota kelompok yang pemalu lebih bebas mengemukakan pendapat dalam kelompok kecil
c.Anggota kelompok lebih merasa terikat dalam melaksanakan, keputusan kelompok karena terlibat dalam proses pengambilan keputusan
d.Diskusi kelompok dapat meningkatakan pemahaman terhadap diri sendiri dan orang lain (kemampuan berinteraksi.
Kelemahan;
a.Diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar biasa
b.Dapat memboroskan waktu, terutama bila terjadi hal-hal negatif seperti pengarahan kurang tepat, pembicaraan berlarut-larut, penyimpangan yang tidak ditegur, penampilan yang kurang baik
c.Anggota yang pendiam atau pernalu sering tidak mendapat kesempatan mengemukakan pendapatnya.Akibatnya ia dapat menarik diri atau terjadi frustasi
d.Jika pemimpin kurang bijaksana, maka diskusi cenderung dapat didominasi oieh orang-orang tertentu.

Hal-hal yang harus dihindari guru dalam membimbing diskusi kelompok kecil;
a.Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
b.Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
c.Membiarkan diskusi dikuasai oleh peserta didik tertentu
d.Membiarkan peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
e.Membiarkan peserta didik tidak aktif
f.Tidak merumuskan hasil diskusi dan tidak membentuk tindak lanjut
g.Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.
Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam membimbing diskusi kelompok kecil;
a.harus ada kesamaan latar belakang pengetahuan di antara para anggota kelompok
b.semua anggota diskusi kelompok harus mampu mengemukakan pendapatnya secara lisan
c.topik yang dibahas harus bersifat terbuka untuk menampung banyak pendapat
d.diskusi harus berlangsung dalam suasana keterbukaan
e.pelaksanaan diskusi harus mengingat keunggulan dan kelemahan-kelemahannya
f.diskusi memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang
g.guru harus mampu mencegah timbulnya hal-hal yang dapat menghambat jalannya diskusi.

Selasa, 07 Desember 2010

Kesehatan Mata

Hobi Kucek Mata Bisa Sebabkan Rabun Jauh

Mengucek atau menggosok-gosok mata saat terasa gatal atau ada sesuatu yang mengganjal, malah akan membuat mata terasa perih dan merah. Mata yang merah dan perih disebabkan oleh iritasi akibat gesekan saat mengucek mata. Tidak hanya itu, mengucek mata juga bisa melemahkan otot yang ada di mata.

"Mengucek mata, yoga dengan kepala di bawah, tidur dengan wajah menempel pada bantal atau berenang merupakan berbagai aktivitas yang bisa menyebabkan penekanan mata meningkat," ujar Profesor Charles McMonnies, dari UNSW School of Optometry and Vision Science, dalam jurnal yang telah dipublikasikan berjudul Optometry and Vision Science, seperti dikutip dari Science.

Pada kasus mengucek mata, terjadi efek kombinasi menutup mata dan kekuatan mengucek mata yang bisa meningkatkan tekanan lebih tinggi lagi. Mengucek dengan keras bisa meningkatkan tekanan hingga 10 kali lebih tinggi dibanding tekanan normal.

Tekanan yang normal akan memberikan konsekuensi yang sedikit, tapi tekanan pada mata yang kuat dalam jangka waktu yang lama dan terjadi secara berulang bisa memberikan kontribusi pada kerusakan mata seperti glaukoma, lebih cepat terkena rabun jauh, conical kornea atau bisa juga menyebabkan kebutaan.

Biar Sahabat Tetap Awet !

A friend is a gift that you give to yourself (unknown)
Punya sahabat yang sehati dan sejalan, wah…siapa yang nggak mau? Nah, kalau sudah punya yang se’klop’ itu, biar tetap langgeng dan nggak putus di tengah jalan, ada 10 tips yang penting buat kita!!

#1. Terima Apa Adanya
Yang namanya sahabat memang harus bisa nerima sahabatnya apa adanya. Nggak masalah punya sifat atau selera music yang beda. Yang penting kita bisa saling ngertiin perbedaan masing-masing. Jangan lupa buat nerima dia apa adanya. Sahabatkan bukan harus serba sama. Justru yang beda itulah yang bikin persahabatan kita jadi makin seru.

#2. Posesif, No Way!!
Karena sudah lama berahabat, kita jadi merasa memiliki dia sepenuhnya. Giliran dia main sama orang lain, kita langsung cemburu dan posesif. Duh, jangan segitunya juga, deh. Merasa memiliki sih boleh, tapi kalau sampai mengikat pergaulan social, wah…nggak asik banget. Bergaul sama orang lain tetap penting. Masa setiap saat mau berduaansama sahabat melulu? Jadi nggak ada salahnya kok buat berteman sama yang lain juga. Seru kan kalau kita juga bisa berteman sama temen-temennya sahabat kita.

#3. Terbuka Aja
Terbuka bukan berarti semuanya mesti diceritain. Tapi lebih ke saling terbuka buat mengungkapkan apa yang ada dihati dan pikiran kita masing-masing. Jangan takut untuk saling mengkritik selagi itu memang baik dan demi kepentingan. Pada awalnya ada rasa nggak enak, tapi itu jauh lebih baik kan, dari paa ngomel-ngomel dibelakang. Pokoknya terus terang aja deh. Percaya kalau yang namanya sahabat itu selalu punya cara terbaik untuk menyampaikan isi hatinya.

#4. Attention, Please…
Perhatikan hal-hal kecil tentang sahabatmu. Mulai dari tanggal ultah, makanan kesukaan, sampai warna dan seleb favoritnya. Kamu juga mesti tahu apa aja yang nggak dia suka. Boleh juga sesekali kasih kejutan hadiah-hadiah smple. Kalau perlu bikin deh friendship day versi sediri sambil tukar-tukaan kado, pasti seru!

#5. Jaga Privasi
Ngomingin rahasia ke sahabat sih oke aja, asal kita tetep ingat privasi masing-masing. Nggak selamanya semua rahasia harus kita critain ke sahabat dan kita juga nggak boleh menuntut dia buat mencritakan rahasianya. Nggak semua orang suka lho urusan pribadinya diutak-atik. Beusaha untuk menghargai privasi masing-masing kayaknya malah bisa bikin kita jadi merasa nyaman satu sama lain.

#6. Saling Jaga Rahasia
Saling jaga rahasia itu penting banget dalam persahabatan. Namanya juga rahasia, jadi cukup kita dan sahabat kita aja yang tahu. Jangan pernah deh sekali-kali ngbocorin rahasia sahabat kita ke orang lain kalau nggak pengen hubungan jadi hancur. Selain kehilangan kepercayaan, kita juga bakal dicap ‘bocor’ gara-gara nggak bisa jaga rahasia. Uhh, rugi banget!

#7. Jaga Lidah dan Perasaan
Ini nih, yang kadang susah banget untuk dijaga. Niatnya bercanda, tapi karena nggak bisa jaga lidahnya jadinya malah melukai sahabat. Bercanda sih boleh, tapi jangan lupa liat sikon juga dong. Sedekat-dekatnya kita sama dia, kalau kondisinya lagi nggak pas, bukanya fun tapi malah jadi ribet. Makannya pintar-pintar deh baca situasi. Jangan pernah juga ngebandingin dia sama temen lain, karena itu sama aja nggak menghargain dia.

#8. Jauhi Perdebatan
Yang namanya konflik nggak pernah ada untungnya. Bukannya nambah pinter, malah cari ribut. Lagian ngapain juga berdebat yang nggak ada hubungannya sama kita? Mendingan ngerumpiin sesuatu yang bikin ketawa. Kalau sampai nyarah ke perdebatan, mending buruan ganti topic pembicaraan.dan jangan lupa minta maaf kalau memang kita yang salah.

#9. Jadi Pendengar Yang Baik
Sahabat yang baik selalu punya telinga yang siap untuk mendengarkan semua keluh kesah sahabatnya. Nggak perlu kalimat yang panjang lebar. Cukup menjadi pendengar yang baikdan berempati sama apa yang dia rasain, kita sudah membantu dia menyelesaikan masalahnya dan meringankan sedikit bebannya. Tapi ingat, seorang sahabat yang baik tetap punya telunjuk buat kasih tahu kalau memang sahabatnya salah. Jadi nggak Cuma sekedar pasang telinga aja.

#10. Jangan Main Api
Maksudnya, jangan pernah sekalipun coba-coba buat naksirsama pacar sahabat kita. Akrab sih boleh, tapi tetap haru ada batasnya. Jangan sampai saking akrabnya kita sama tuh cowok, muncul rasa suka. Kalaupun perasaan itu sampai muncul dihati kita, nggak ada pilihan lain, kita memang harus bisa menghancurkan perasaan itu demi sahabat kita!

Merancang dan Mengelola Jasa

Merancang dan Mengelola Jasa

Latar Belakang
Dalam pemasaran, kita tahu bahwa produk yang dihasilkan suatu perusahaan bisa berupa barang (goods) dan jasa (service). Pandangan ini perlu dipahami dengan seksama. Kita mudah sekali terjebak ke pandangan produk fisik yang terbatas. Yang kita inginkan adalah memikirkan suatu produk dari segi kebutuhan yang akan dipuaskan oleh produk itu. Jika sasaran perusahaan ingin memuaskan kebutuhan pelanggannya, jasa bias merupakan sebagian dari produk atau jasaitu sendiri merupakan produknya dan haus disajikan sebagai bagian dari pemasaran secara total.
Tetapi ketika perekonomian semakin maju dan perusahaan-perusahaan merasa makin sulit melakukan diferensiasi produk-produk fisiknya, maka mereka akan semakin meningkatkan proporsi kegiatan mereka yang difokuskan pada produksi jasa. Jasa merupakan setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.
Perekonomian Amerika Serikat dewasa ini mempunyai perbandingan bauran jasa dan barang sebesar 70-30. Jasa mencakup hasil kerja perusahaan-perusahaan penerbangan, hotel, sewa mobil, tukang cukur dan ahli kecantikan, orang-orang yang melakukan pemeliharaan dan perbaikan, juga para professional yang bekerja dalam atau untuk perusahaan, seperti akuntan, pengacara, insinyur, dokter, pemrogram perangkat lunak, dan konsultan manajemen. Tetapi banyak juga tawaran pasar yang terdiri dari bauran variable barang dan jasa. Pada restoran makanan siap saji misalnya, pelanggan mengkonsumsi baik produk maupun jasa.
Dari sinilah maka banyak perusahaan jasa yang berlomba-lomba untuk menetapkan strategi pemasaran pada perusahaannya. Misalnya perusahaan mencoba mempertunjukkan mutu jasa mereka melalui bukti fisik dan penyajian. Perusahaan jasa dapat memilih dari berbagai proses yang berbeda-beda dalam memberikan pelayanan. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi bidang jasa dipengaruhi oleh lebih beberapa elemen jasa tersebut. Menurut Gronroos pemasaran jasa tidak hanya membutuhkan pemasarn eksternal tetapi juga pemasaran internal dan interaktif atau informasi dua arah.
Perusahaan jasa dapat memenangkan persaingan dengan menyampaikan secara konsisten layanan yang bermutu lebih tinggi dibandingkan para pesaing dan yang lebih tinggi dari pada harapan pelanggan. Setelah menerima jasa, pelanggan akan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan. Jika jasa yang dialami berada dibawah jasa yang diharapkan, pelanggan tidak berminat lagi terhadap penyedia itu. Tetapi jika jasa yang dialami memenuhi atau melebihi harapan, mereka akan menggunakan penyedia jasa itu lagi.

PEMBAHASAN
Pengertian dan Karakteristik Jasa
Dalam pemasaran, produk mempunyai arti yang luas, yaitu suatu kesatuan yang ditawarkan pada pasar baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Produk yang berwujud biasa disebut barang (goods) dan produk yang tidak berwujud biasa disebut jasa (service). Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Armstrong (1993:494) jasa adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Proses produksinya juga tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
Sementara itu Robert D. Reid (1989:29) memberikan penjelasan mengenai jasa adalah sesuatu yang tidak berwujud. Tidak seperti produk yang berwujud jasa bukan barang fisik, tetapi sesuatu yang menghadirkan kegiatan atau perbuatan. Kehadirannya ini umumnya dilakukan atas dasar personal sering berhadap-hadapan langsung antara individu. Christian Gonroos (1990:27) mencoba memadukan pengertian jasa sebagai aktivitas dari suatu hakikat yang tidak berwujud yang berinteraksi antara konsumen dan pemberi jasa dan sumber daya fisik atau barang dan system yang memberikan jasa, yang memberikan solusi bagi masalah-masalah konsumen.
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa jasa mempunyai beberapa karkteristik. Menurut Philip Kotler (1994:466), ada empat karekteristik utama jasa yang berpengaruh besar pada perencanaan program pemasaran yaitu:
1. Intangibility (tidak berwujud).
Jasa bersifat intangible, artinya jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Bila barang merupakan suatu objek, alat, material, atau benda, maka jasa justru merupakan perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja (performance), atau usaha. Untuk mengurangi ketidakpastian, para konumen akan mencari tanda atau bukti dari mutu jasa. Mereka akan menarik kesimpulan mengenai mutu jasa dari alat pemasaran seperti tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, symbol dan harga yang mereka lihat. Oleh karena itu tugas penyedia jasa akan mengelola bukti itu untuk mewujudkan yang tidak berwujud.
2. Inseparability (tidak dapat dipisahkan).
Kegiatan jasa tidak dapat dipisahkan dari pemberi jasa, baik perorangan ataupun organisasi serta perangkat mesin atau teknologi. Maksudnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, lalu didistribusikan melewati berbagai penjual dan kemudian baru dikonsumsi. Jika seseorang memberikan pelayanan, maka penyedianya merupakan bagian dari jasa itu.
3. Variability (berubah-ubah atau bervariasi).
Kualitas jasa yang diberikan oleh manusia dan mesin atau peralatan berbeda-beda, tergantung pada siapa yang memberi, bagaimana memberikannya, serta waktu dan tempat jasa tersebut diberikan. Pembeli jasa menyadari keragaman yang tinggi itu dan sering membicarakannya dengan orang lain sebelum memilih seorang penyedia jasa. Contoh; delivery order
4. Perishability (tidak tahan lama).
Bahwa jasa tidak bisa disimpan untuk kemudian dijual atau digunakan, sehingga pada dasarnya jasa langsung dikonsumsi pada saat diberi. Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah jika permintaan jasa selalu ada dan berjalan lancar. Sedangkan apabila permintaan turun, maka masalah yang sulit akan segera muncul.
Sementara itu Lovelock (1984:30) menyatakan bahwa jasa mempunyai tiga karakteristik utama :
1. More intangible than tangible (cenderung tidak berwujud).
Jasa merupakan perbuatan, penampilan, atau suatu usaha sehingga bila konsumen membeli jasa maka umumnya jasa tersebut tidak berwujud, tetapi bila konsumen membeli suatu barang maka pada umumnya barang tersebut berwujud sehingga dapat dipakai atau ditempatkan disuatu tempat.
2. Simultaneous production and consumption (produksi dan konsumsi serentak). Jasa diproduksi dan dikonsumsi dalam waktu yang sama artinya penyedia jasa hadir secara fisik pada saat konsumsi berlangsung.
3. Less standardized and uniform (kurang terstandarisasi dan seragam).
Industri jasa cenderung dibedakan berdasarkan orang (people based) dan peralatan (equipment based). Hasil jasa orang kurang memiliki standarisasi dibandingkan dengan hasil jasa yang menggunakan peralatan.
Dengan karakteristik jasa seperti diatas maka bagi konsumen akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar dan beragam dalam mengevaluasi kualitas jasa (service quality) dibandingkan dengan mengevaluasi kualitas barang (good quality). Konsumen tidak hanya mengevaluasi kualitas jasa pada hasilnya saja, tetapi juga akan mempertimbangkan penyampaiannya.

Merancang dan Mengelola Jasa Pada Perusahaan Jasa
Perusahaan yang memberikan pelayanan bermutu tinggi tidak akan diragukan lagi dalam mengungguli pesaing yang kurang berorientasi pada pelayanan. Perusahaan yang bermutu jasa tinggi mampu mengenakan harga lebih tinggi, tumbuh lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak keuntungan karena kekuatan mutu jasa mereka yang lebih unggul. Perusahaan harus mengidentifikasi jasa yang memiliki nilai paling tinggi oleh pelanggan dan kepentingan relatifnya dengan menawarkan dan menetapkan harga pelayanan pendukung dengan cara yang berbeda.
Perusahaan harus mengetahui beberapa strategi dalam merancang dan mengelola jasa, yaitu berupa apa yang dapat dirasakannya (technical quality), bagaimana cara penyampaian jasa (functional quality), dan ditambah dengan kesan baik atau kesan buruk mengenai perusahaan (corporate image) yang terbentuk dalam benak konsumen sebelum atau sesudah mengkonsumsi jasa. Apabila harapannya sesuai dengan apa yang dirasakan setelah mengkonsumsi jasa tersebut, berarti kualitas jasa itu baik. Jelaslah bahwa kualitas jasa tersebut dapat diukur dari kepuasan konsumen yang ditentukan oleh penilaiannya terhadap jasa tersebut (total perceived quality). Citra kualitas yang baik bukan berdasarkan sudut pandang atau persepsi penyedia jasa, melainkan melalui sudut pandang atau persepsi konsumen. Konsumenlah yang menikmati jasa perusahaan sehingga merekalah yang menentukan kualitas jasa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merancang dan mengelola jasa yaitu:
1. Meningkatkan differensiasi kompetitif pesaing
Di dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam, perusahaan dapat menciptakan inovatif dan citra yang berbeda dibandingkan dengan pesaingnya. Penciptaan inovatif ini harus dikembangkan sesuai dengan keinginan konsumen dan secara agresif harus lebih dahulu dari pesaing dan bukan meniru pesaing.
2. Meningkatkan mutu jasa
Kunci keberhasilan dalam pemasaran jasa adalah memenuhi atau melebihi pengharapan konsumen sasaran mengenai mutu jasa. Pengharapan konsumen tersebut suatu citra di mata konsumen, sehingga menjadi buah pembicaraan rekan-rekan konsumen lainnya. Pelayanan yang memuaskan merupakan salah satu bentuk pengharapan konsumen tersebut. Para peneliti menemukan bahwa ada lima penentu mutu jasa. Kelimanya disajikan secara berurut berdasarkan tingkat kepentingannya, yaitu keandalan, daya tangkap, kepastian, empati, dan berwujud.
Ada 10 faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan (service quality), yaitu:
a. Kesiapan sarana jasa (access)
b. Komunikasi harus baik (communication)
c. Karyawan yang terampil (competence)
d. Hubungan baik dengan konsumen (courtesy)
e. Perusahaan dan karyawan harus berorientasi pada konsumen (credibility)
f. Harus konsisten dan cermat (responsiveness)
g. Cepat tanggap (responsiveness)
h. Keamanan konsumen terjaga (security)
i. Harus bisa dilihat (tangibles)
j. Memahami keinginan konsumen (understanding knowing the costumer)



3. Meningkatkan produktifitas
Keuntungan dari meningkatkan produktifitas jasa adalah untuk peningkatan pasar (Market Gain). Mutu produk atau pelayanan yang meningkat akan membuat produk (baik barang maupun jasa) tersebut makin dikenal sehingga permintaan pasar meningkat dan keuntungan perusahaan juga meningkat. Keuntungan kedua adalah penghematan biaya (Cost Saving). Mutu produk yang meningkat akan menurunkan biaya produksi atau service. Dalam meningkatkan produktifitas jasa dapat dilakukan dengan; bekerja keras dengan keterampilan yang tinggi, meningkatkan kuantitas jasa, menindustrikan jasa maksudnya lebih memperluas aktivitas bisnis jasa tersebut dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih, merancang jasa yang lebih efektif, mempertahankan mutu pelayanan jasa, memberikan insentif pada pelanggan. Untuk membuktikan baik tidaknya produktifitas kualitas suatu produk, dapat diukur dari tingkat kepuasan konsumen. Jasfar (2005) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kepuasan terhadap suatu jasa adalah perbandingan antara persepsinya terhadap jasa yang diterima dengan harapannya sebelum menggunakan jasa tersebut.
4. Mengelola jasa pendukung produk
Sejauh ini kita memusatkan perhatian pada industri jasa. Yang tidak kalah penting adalah industri berbasis produk yang harus menyediakan sekumpulan jasa bagi pelanggannya. Produsen peralatan rumah tangga kecil, peralatan kantor, traktor, komputer mainframe, pesawat terbang semua harus menyediakan jasa pendukung produk bagi pembeli. Pada kenyataannya jasa pendukung produk sedang menjadi medan pertempuran utama untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.
Perusahaan yang memberikan pelayanan berkualitas tinggi tidak diragukan lagi akan mengungguli pesaingnya yang kurang berorientasi pelayanan. Contohnya perusahaan jasa yang menawarkan garansi untuk mendorong penjualan. Jaminan merupakan pernyataan formal mengenai kenerja produk yang diharapkan dari perusahaan manufaktur. Produk dengan jaminan dapat dikembalikan ke pusat reparasi untuk perbaikan, penggantian, atau pengembalian uang.
Garansi sangat efektif dalam dua situasi. Pertama, perusahaan atau produknya tidak terkenal. Misalnya suatu perusahaan mungkin mengembangkan dan menawarkan suatu cairan yang mengklaim dapat menghilangkan noda paling bandel dari karpet. Suatu “garansi uang akan kembali jika tidak puas” akan memberikan keyakinan pada para pembeli untuk membeli produk itu. Situasi kedua adalah bila kualitas produk itu unggul dibandingkan saingan. Di sini perusahaan dapat memperoleh untung dengan memberikan garansi kinerja yang unggul karena perusahaan tahu bahwa para pesaingnya tidak dapat menawarkan garansi yang sama.

Strategi Pemasaran Perusahaan Jasa
Perusahaan jasa ternama “terobsesi pada pelanggan”. Mereka memiliki pengertian yang jelas mengenai pelanggan sasaran mereka dan kebutuhan pelanggan yang akan mereka puaskan. Mereka mengembangkan suatu strategi khusus untuk memuaskan kebutuhan ini menghasilkan kesetiaan pelanggan. Tetapi banyak perusahaan jasa yang bersifat kecil tidak menggunakan teknik manajemen atau pemasaran formal. Begitu juga perusahaan professional yang dulunya perusahaan-perusahaan tersebut yakin bahwa menggunakan pemasaran itu tidak professional. Dunia bisnis lainnya menghadapi permintaan yang sangat banyak atau persaingan yang sangat sedikit hingga saat ini mereka tidak melihat perlunya pemasaran. Booms dan Bitner menyarankan 3P yang terlibat dalam pemasaran jasa yaitu orang (people), bukti fisik (physical evidence), dan proses (process).
Perusahaan-perusahaan mencoba mempertunjukkan mutu jasa mereka melalui bukti fisik dan penyajian. Perusahaan jasa dapat memilih dari berbagai proses yang berbeda-beda dalam memberikan pelayanan. Menurut Gronroos pemasaran jasa tidak hanya membutuhkan pemasaran eksternal tetapi juga pemasaran internal dan interaktif atau informasi dua-arah, yaitu:
1. Pemasaran Eksternal
Strategi pemasaran eksternal ini dikenal dengan 7 P (product, price, place, promotion, process, personil, and physical facility). Menggambarkan aktivitas normal yang dilakukan oleh perusahaan dalam mempersiapkan jasa, menetapkan harga, melakukan distribusi, dan mempromosikan jasa yang bernilai superior kepada para pelanggan. Bila ini bisa dilakukan dengan baik, maka pelanggan akan ‘terikat’ dengan perusahaan, sehingga laba jangka panjang bisa terjamin.

2. Pemasaran Internal
Menggambarkan tugas perusahaan dalam rangka melatih dan memotivasi para karyawan (sebagai aset utama perusahaan dan ujung tombak pelayanan) agar dapat melayani para pelanggan dengan baik. Yang tak kalah pentingnya adalah pemberian penghargaan dan pengakuan yang sepadan dan manusiawi. Aspek ini bisa membangkitkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, loyalitas, dan rasa ‘memiliki’ setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang dilayani.
3. Pemasaran Interaktif
Menggambarkan interaksi antara pelanggan dan karyawan. Sebab kepuasan konsumen tidak hanya terletak pada mutu jasa. Misalnya, restorannya yang megah dan makanannya yang bergizi. Tetapi juga harus dipadukan dengan melakukan service quality improvement kepada setiap pelanggan dan calon pelanggan supaya peningkatan pelayanan benar-benar meyakinkan. Bila ini terealisasi, maka pelanggan yang puas akan menjalin hubungan berkesinambungan dengan karyawan dan perusahaan yang bersangkutan.
Keberhasilan pemasaran jasa sangat dipengaruhi oleh jumlah pendapatan masyarakat. Semakin maju sebuah negara maka semakin banyak permintaan akan jasa. Hal tersebut sejalan dengan hierarki kebutuhan manusia yang mula-mula dari fisiologis bergerak pada perwujudan diri. Dengan demikian suatu negara yang hendak memaksimalkan pelayanan jasa, hendaknya masyarakat dari negara tersebut sudah berpendapatan tinggi atau upah minimal regional mengalami peningkatan. Sehingga tingkat konsumsi akan jasa akan semakin tinggi.